Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berupa Seminar Hasil Tesis pada Selasa, 18 November 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang 410 Lantai 4 Unit 1 Gedung Sekolah Pascasarjana UGM dan menjadi bagian dari tahapan akhir penyelesaian studi mahasiswa MMB.
Pada kesempatan tersebut, Andri Pratiwi mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Penilaian Risiko Multibencana Bangunan Cagar Budaya Nasional di Kota Yogyakarta”, di bawah bimbingan Prof. Dr.rer.nat. Djati Mardiatno, M.Si. sebagai Pembimbing Utama dan Dr. Ir. Bambang Kun Cahyono, S.T., M.Sc., IPU. sebagai Pembimbing Pendamping.
Penelitian ini menyoroti tingginya tingkat risiko bencana yang dihadapi bangunan cagar budaya nasional di Kota Yogyakarta, seiring dengan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan indeks risiko bencana tertinggi di dunia. Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota budaya sekaligus destinasi wisata utama, memiliki ratusan bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang tinggi, namun sebagian besar masih memiliki keterbatasan kapasitas dalam menghadapi ancaman multibencana.
Melalui pendekatan penilaian risiko multibencana, penelitian ini menganalisis enam jenis ancaman bencana, yaitu gempa bumi, kekeringan, cuaca ekstrem, banjir, letusan gunung api, dan kebakaran. Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) digunakan untuk menentukan bobot ancaman, kerentanan, dan kapasitas bangunan, yang kemudian diintegrasikan dengan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) guna menghasilkan peta risiko yang komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi tingkat risiko antar bangunan cagar budaya nasional di Kota Yogyakarta. Temuan ini menegaskan bahwa tingginya ancaman tidak selalu berbanding lurus dengan risiko apabila kapasitas bangunan dan pengelolaannya kuat. Sebaliknya, bangunan dengan ancaman relatif lebih rendah tetap dapat memiliki risiko tinggi apabila kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaannya terbatas. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merumuskan rekomendasi mitigasi yang mencakup langkah struktural, seperti penguatan fisik dan konservasi bangunan, serta langkah nonstruktural, antara lain penguatan kelembagaan, penyusunan SOP multibencana, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Seminar hasil ini dihadiri oleh dosen pembimbing, sivitas akademika MMB, serta mahasiswa lintas angkatan. Diskusi yang berlangsung menekankan pentingnya integrasi antara upaya pelestarian cagar budaya dan pengurangan risiko bencana, agar nilai penting dan keberlanjutan bangunan bersejarah tetap terjaga di tengah meningkatnya kompleksitas risiko bencana di kawasan perkotaan.