Yogyakarta – Mahasiswa Magister Manajemen Bencana (MMB) Universitas Gadjah Mada turut ambil bagian dalam gelaran The 13th International Graduate Students and Scholars’ Conference in Indonesia (IGSSCI) yang diselenggarakan pada 4–5 November 2025 di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Mengusung tema “Navigating The Future: Strengthening Resilience Through Glocal Collaboration Towards World Peace”, konferensi ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas penguatan ketangguhan melalui sinergi pengetahuan lokal dan global. Dalam forum akademik tersebut, mahasiswa MMB mempresentasikan beragam penelitian yang menyoroti dinamika kebencanaan dari perspektif arkeologi, tata ruang, hidrometeorologi, kelembagaan, hingga integrasi sistem peringatan dini dengan kearifan lokal.
Silfani mempresentasikan penelitian berjudul “Reviving Indigenous Resilience: Disaster Risk Management Lesson from the Liyangan Site, Indonesia.” Dalam penelitiannya, Silfani menelaah kembali praktik manajemen risiko bencana yang telah dipraktikkan masyarakat Jawa Kuno pada masa erupsi Gunung Sindoro abad ke-11. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Liyangan memiliki sistem mitigasi ruang yang adaptif, pola evakuasi yang terkoordinasi, serta kesiapsiagaan kolektif yang tercermin dari temuan arkeologis berupa bangunan, terasering, dan perkakas yang sengaja ditinggalkan sebelum bencana. Melalui analisis SWOT dan TOWS, Silfani merumuskan strategi DRM berbasis pengetahuan historis sebagai landasan bagi perencanaan kebencanaan modern, dengan menekankan pentingnya menjaga kewaspadaan dan memanfaatkan narasi leluhur untuk membangun sistem ketangguhan yang berkelanjutan.
Sementara itu, masih meneliti situs arkeologi Liyangan, Firli Yogiteten memaparkan penelitian berjudul “Liyangan Then and Now: Spatial Adaptation From an Ancient Mataram City to Modern Rural Settlements in a Volcanic Hazard-Prone Landscape,” yang membandingkan strategi adaptasi spasial antara permukiman kuno Liyangan dan desa modern yang kini berkembang di lokasi yang sama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif komparatif dengan menggabungkan data penginderaan jauh, observasi lapangan, serta literatur arkeologi. Firli menemukan bahwa masyarakat kuno memiliki integrasi kuat antara penataan ruang dan mitigasi bencana melalui terasering berlapis, talud batu dengan konstruksi presisi, serta jaringan jalan dan tangga yang mempermudah mobilitas dan evakuasi. Di sisi lain, permukiman modern berkembang lebih organik, didorong oleh aktivitas agrikultur dan pariwisata, namun belum sepenuhnya memperhatikan aspek evakuasi maupun stabilitas lereng. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran dari masa lalu, terutama terkait aksesibilitas, pengelolaan kemiringan, dan ruang terbuka, dapat memperkuat perencanaan permukiman masa kini yang berada di kawasan rawan bencana.
Farid Akhmad Rosadi melalui studi bertajuk “Urban Flood Hazard Mapping in Biringkanaya District, Makassar City, South Sulawesi Province.” Dengan menggunakan metode Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA), penelitian ini mengintegrasikan tujuh parameter utama yang terdiri dari curah hujan, elevasi, kemiringan lereng, jenis tanah, penggunaan lahan, kerapatan drainase, dan jarak dari sungai untuk menghasilkan peta bahaya banjir yang komprehensif berbasis GIS. Data curah hujan selama 30 tahun dan catatan kejadian banjir diperhitungkan untuk meningkatkan akurasi model. Hasilnya menunjukkan konsentrasi risiko banjir tertinggi berada di kawasan padat dan minim drainase seperti Katimbang dan Paccerakkang. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi pemerintah daerah, termasuk kebutuhan mendesak akan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan penataan ruang yang lebih mengendalikan alih fungsi lahan di zona rawan.
Penelitian mengenai tata kelola kebencanaan kemudian dipresentasikan oleh Muhamad Irfan Nurdiansyah dalam kajian berjudul “Institutional Gaps in Disaster Governance, Lessons from the 2022 Cianjur Earthquake.” Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, Irfan melakukan wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan, observasi lapangan, serta telaah 42 dokumen resmi. Dengan menggunakan kerangka Collaborative Governance (Ansell & Gash, 2008) dan Institutional Capacity (Orencio & Fujii, 2013), penelitian ini mengidentifikasi sejumlah tantangan seperti lemahnya perencanaan spesifik bahaya, koordinasi antarlembaga yang terfragmentasi, dan minimnya kapasitas kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian ini juga menyoroti adanya kesenjangan antara regulasi yang komprehensif dan implementasi yang lemah, terutama pada fase pemulihan yang terhambat birokrasi dan dinamika sosial di tingkat komunitas. Temuan Irfan mempertegas pentingnya integrasi mikrozonasi ke dalam RTRW, penegasan SOP lintas lembaga, serta model relokasi partisipatif yang sensitif terhadap mata pencaharian warga.
Sementara Taaj Nabil melalui penelitian berjudul “Understanding the Challenges in Integrating Early Warning Systems and Local Knowledge in the Southern Area of Mount Merapi: A Case Study of the 2010 Merapi Eruption.” Ia mengungkapkan bahwa integrasi antara sistem peringatan dini berbasis teknologi dan pengetahuan lokal menghadapi hambatan yang muncul dari perbedaan epistemologis antara keyakinan masyarakat dan informasi ilmiah yang diberikan lembaga teknis seperti PVMBG. Kajian literatur yang ia lakukan menunjukkan bahwa ketegangan tersebut dapat menghambat efektivitas penyampaian peringatan dini, sehingga diperlukan pendekatan interkultural yang mampu menjembatani perbedaan persepsi dan meningkatkan kepercayaan komunitas terhadap sistem formal.
Partisipasi mahasiswa MMB UGM dalam IGSSCI 2025 ini menunjukkan komitmen kuat program studi untuk mendorong kolaborasi lintas disiplin dan memperkaya diskursus kebencanaan di tingkat nasional maupun global. Melalui penelitian yang berakar pada konteks lokal namun relevan dengan tantangan global, kontribusi para mahasiswa ini mempertegas peran akademisi dalam membangun masa depan yang tangguh dan damai melalui inovasi, refleksi historis, dan penguatan tata kelola berbasis pengetahuan.