Sleman, Yogyakarta – Mahasiswa Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada turut ambil bagian dalam kegiatan edukasi kebencanaan yang diselenggarakan di Padukuhan Sumber, Balecatur, Gamping, Sleman, pada Sabtu 15 November 2025. Melalui kolaborasi dengan KKN UNY kelompok KKNM 27127, empat mahasiswa MMB yaitu Tamara, Vira, Farah, dan Afni turun langsung mendampingi narasumber dari PSBA UGM, Muhamad Irfan Nurdiansyah, dalam kegiatan sosialisasi mitigasi gempa bumi dan edukasi tas siaga bencana. Keterlibatan mereka menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih interaktif, sekaligus memberi peluang bagi mahasiswa MMB untuk mempraktikkan ilmu kebencanaannya bersama masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh para kepala sekolah, ketua RT, dan ketua RW di lingkungan Padukuhan Sumber. Dalam sambutan pembuka, Kepala Dukuh Sumber, Fothurohman Rusdyanto, menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa MMB UGM yang terjun langsung mendampingi pemateri. Menurutnya, kehadiran mahasiswa pascasarjana membawa perspektif tambahan yang penting karena mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu membantu menjelaskan situasi kebencanaan secara lebih luas kepada warga.
Dalam sesi materi, Muhamad Irfan Nurdiansyah menjelaskan konsep dasar terjadinya gempa bumi serta potensi kerawanan wilayah Sleman yang berada dekat dengan sesar di Pegunungan Kulonprogo. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Sleman tahun 2021 hingga 2025, wilayah Gamping, Godean, Moyudan, Seyegan, dan Minggir termasuk kawasan yang harus meningkatkan kewaspadaan karena berada berdekatan dengan jalur sesar aktif. Mahasiswa MMB UGM turut membantu memperkaya penjelasan dengan membagikan contoh lapangan yang mereka pelajari selama studi, sehingga peserta mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi risiko di wilayah mereka.
Mahasiswa MMB juga membantu menyampaikan pelajaran berharga dari Jepang melalui hasil survei pascagempa Great Hanshin Awaji tahun 1995. Survei tersebut menunjukkan bahwa korban selamat paling banyak diselamatkan oleh diri sendiri sebesar 35 persen. Anggota keluarga menyusul di angka 31,9 persen, teman atau tetangga sebesar 28,1 persen, orang lewat sebesar 2,60 persen, tim SAR sebesar 1,70 persen, dan kategori lainnya 0,90 persen. Data ini digunakan mahasiswa untuk memperkuat pesan bahwa kesiapsiagaan komunitas tidak bisa hanya mengandalkan tim penyelamat formal, tetapi harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Penjelasan ini mendapat perhatian besar dari peserta yang mulai memahami pentingnya penguatan kapasitas di tingkat rumah tangga dan padukuhan.
Selama sesi berlangsung, Tamara, Vira, Farah, dan Afni secara aktif mendampingi peserta, membantu menjelaskan materi, mengarahkan diskusi, dan memastikan setiap peserta memahami poin-poin kunci mitigasi gempa bumi. Kehadiran mereka juga membantu memperlancar dialog antara narasumber dan warga, sehingga suasana belajar menjadi lebih hangat dan mudah diikuti. Mahasiswa MMB tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar langsung dari masyarakat mengenai kondisi riil padukuhan dan tantangan keselamatan yang mereka hadapi.
Saat memasuki bagian praktik, mahasiswa MMB UGM kembali mengambil peran penting. Dalam simulasi evakuasi gempa bumi, Tamara dan Vira membantu memandu peserta mempraktikkan gerakan Drop Cover and Hold dengan benar, sementara Farah dan Afni memastikan peserta mengikuti jalur evakuasi yang aman menuju titik kumpul. Pendampingan langsung ini membuat latihan berjalan lebih tertib, sekaligus memperlihatkan bagaimana pengetahuan kebencanaan yang mereka pelajari di kampus diterapkan secara nyata di lapangan.
Kepala Dukuh Sumber menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa MMB UGM memberikan nilai tambah yang besar bagi kegiatan ini. Menurutnya, mahasiswa yang turun langsung bersama warga menciptakan suasana kolaboratif yang kuat dan mendorong masyarakat lebih percaya diri dalam belajar mitigasi bencana. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan, karena membantu memperkuat hubungan antara akademisi dan masyarakat.
Para mahasiswa MMB UGM juga mengakui bahwa pengalaman ini sangat berharga karena memungkinkan mereka menyaksikan langsung bagaimana masyarakat merespons informasi kebencanaan. Mereka dapat melihat bahwa teori yang dipelajari di kelas perlu disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan kapasitas lokal. Dengan turun ke lapangan, mereka belajar bagaimana menyampaikan edukasi kebencanaan dengan cara yang sederhana namun tetap tepat sasaran.
Keterlibatan Tamara, Vira, Farah, dan Afni dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa MMB UGM tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga terlibat aktif mempraktikkan ilmu manajemen bencana di tengah masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dapat memperkuat kapasitas mereka sebagai calon praktisi kebencanaan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesiapsiagaan warga. Kolaborasi antara MMB UGM, PSBA UGM, dan KKN UNY ini menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat hadir secara langsung untuk memperkuat ketangguhan komunitas dalam menghadapi ancaman gempa bumi.