

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 menyisakan banyak pelajaran, terutama tentang cara layanan kesehatan tetap berjalan ketika gedungnya sendiri tidak lagi aman. Pelajaran itu menjadi bahan diskusi di Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB) UGM dalam webinar SAFE Vol. 6 bertajuk “Ketangguhan di Balik Guncangan: Respons Kesehatan dan Pemulihan Pascagempa Flores” pada Senin, 31 Agustus 2026 silam, melalui Google Meet. Kegiatan ini menghadirkan dr. Erwin Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto, Sp.Rad., M.Med.Sc sebagai narasumber dan apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., peneliti dan konsultan manajemen bencana kesehatan, sebagai penaggap . Peserta berasal dari kalangan umum, pelajar, dan pelajar.
dr. Erwin menceritakan bagaimana rumah sakit di Maumere, Kabupaten Sikka, langsung memindahkan pelayanan ke luar gedung untuk menghindari risiko gempa susulan. Tenda darurat didirikan, layanan IGD dan rawat jalan diatur ulang, dan pasien rawat inap dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Situasi ini semakin rumit karena trauma kolektif dari gempa dan tsunami 1992 masih membekas, sehingga warga sempat berbondong-bondong mengungsi ke dataran tinggi. Kondisi geografis kepulauan juga menambah beban. Pulau Palue, yang paling dekat dengan episentrum, sulit dijangkau, sementara kekurangan tenaga spesialis, ventilator, oksigen, dan ruang perawatan intensif membuat sebagian pasien harus dirujuk ke luar daerah.
Selain itu, Bapak apt. G de Yulian mengapresiasi kecepatan respon tenaga kesehatan di lapangan, namun juga mengingatkan bahwa gempa di Indonesia adalah keniscayaan. “Tantangannya bukan kapan gempa akan terjadi, tapi bagaimana kita menyiapkan diri menghadapinya,” ujarnya . Ia menyoroti adanya kesamaan antara data di dashboard kesehatan dan kondisi nyata di lapangan, sehingga pengambil keputusan tidak boleh bergantung pada satu sumber saja. “Selalu cek, cross-check, dan counter-check,” tegasnya. Menurutnya, Health Emergency Operation Center (HEOC) di setiap daerah perlu saling terhubung, karena bantuan yang masuk melalui satu pintu, misalnya Labuan Bajo, belum tentu ditujukan untuk wilayah tersebut. Ia berharap bantuan untuk Flores terus bertambah dan juga semakin terkoordinasi sehingga sesuai dengan kebutuhan warga yang terdampak.
Melalui webinar ini, MMB UGM turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan ini mencerminkan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) sebagai ruang belajar terbuka bagi publik dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mengingat Tujuan), mengingat pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah yang menjadi benang merah diskusi.
Forum SAFE akan terus menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara akademisi, praktisi, dan masyarakat agar kesiapan kesehatan dibangun jauh sebelum bencana datang.